Pergi kePuncak Ketika Musim Turis Timur Tengah Tiba (2)

Sumber Jawa Pos

Tunggu Suami Kontrak Balik karena Baru Dibayar Separo

Meski diiming-imingi duit jutaan hingga puluhan juta rupiah, tak semua wanita di
Cisarua, Bogor, mau dikawin kontrak oleh para turis asal Timur Tengah.. Bahkan,
seorang PSK (pekerja seks komersial) pun tak langsung mau ketika ditawari.

AGUNG PUTU ISKANDAR, Bogor

Namanya sebut saja Ani.
Umurnya 25 tahun. Sehari-hari, dia adalah seorang PSK yang biasa mangkal di
daerah Tugu Selatan, Cisarua.
Kepada Jawa Pos ( Cenderawasih Pos Group) yang
menemui di sebuah rumah biliar dan karaoke di daerah Cisarua, Ani mengaku sempat
ditawari tetangganya untuk menjadi istri kontrakan seorang pria dari Timur
Tengah. “Aku nggak mau, Mas,” katanya dengan intonasi sangat
tegas.

Mengapa tidak mau? “Banyak nggak enaknya. Uang yang diterima nggak
sebanding dengan risiko yang harus dihadapi,” tuturnya.
Apa yang dimaksud
dengan risiko itu? Ani lantas menceritakan pengalamannya dicurhati beberapa
temannya yang dikawin kontrak pria Timur Tengah. “Mereka kebanyakan mengaku
kewalahan dan kelelahan melayani pasangannya. Bahkan, ada di antaranya yang
cerita sampai tersiksa lahir dan batin,” paparnya.Ani menambahkan, kebanyakan wanita yang mau dikawin kontrak berumur 28-32 tahun. “Kalau masih
muda seperti saya, banyak yang nggak mau,” ujarnya. “Meski pekerjaanku menjual
diri, aku kan juga harus pilih-pilih pasangan. Apa artinya dapat uang banyak
kalau jadinya malah sakit semua. Apalagi sampai tersiksa batin,” tegas ibu dua
anak tersebut. Cecep, salah seorang calo, menambahkan, memang tak mudah mencari
wanita yang mau dikawin kontrak. Mereka yang menjadi istri kontrakan turis Timur
Tengah, lanjut dia, harus siap fisik dan mental. Para istri harus selalu
bersedia kapan pun dibutuhkan. Sebab, gairah para turis ras kaukasoid itu tak
mengenal ruang dan waktu. Sekali “pengen”, harus langsung dikabulkan saat itu
juga.

Berdasar pengalaman menjadi penjaga vila selama lima tahun, Cecep
sering melihat para turis Timur Tengah itu memenuhi hasrat seksualnya di
sembarang tempat. Pernah dia melihat mereka melakukannya di taman kompleks vila.
Siang-siang lagi! “Ya gituan, di depan umum. Tapi, bukan di depan umum di depan
banyak orang. Di luar, tapi masih kompleks vila. Kami yang tahu ya ngelihat
aja,” ujarnya lantas tersenyum. “Kalau di luar saja seperti itu, apalagi kalau
di dalam kamar,” imbuhnya. Selain itu, kata Cecep, wanita yang menjalani kawin
kontrak harus siap atas segala konsekuensinya. Sering tidak ada yang mau
memperistri wanita yang selesai menjalani kawin kontrak. Lelaki Cisarua telanjur
menganggap, secara fisik, wanita yang selesai menjalani kawin kontrak sudah
rusak. “Kalau sudah gitu, siapa yang mau?” katanya.

Akibatnya, kata
Cecep, banyak di antara mereka yang akhirnya benar-benar menjadi pelacur setelah
menjadi istri kontrak. Pelacur eks kawin kontrak itu pun tak beroperasi di
daerah sekitar Puncak. Mereka lebih memilih kawasan remang-remang lain di
Cisarua.
Kalaupun ada, citra wanita eks kawin kontrak dianggap jelek di dunia
pelacuran Puncak. Pelacur seperti itu dianggap tak berkualitas dan sering
mengecewakan pelanggan.

Rabu malam lalu (6/5), Jawa Pos sempat membawa
salah seorang wanita pelaku kawin kontrak ke sebuah vila untuk keperluan
wawancara. Salah seorang penjaga vila yang juga mucikari sempat melihat wanita
tersebut. Lelaki itu lantas mengirim SMS kepada Jawa Pos. “Mas, bisa keluar
sebentar?” ungkap penjaga itu dalam pesan singkatnya. Saat ditemui, mucikari
tersebut menyatakan bahwa kualitas wanita yang dibawa tidak bagus. “Ngapain Mas?
Dia sering mengecewakan pelanggan. Dia itu mah, bekas wanita kawin kontrak. Saya
bisa carikan yang lebih bagus,” katanya setengah berbisik.

Dunia remang-remang juga penuh persaingan. Antara satu mucikari dengan yang lain
merasa memiliki stok wanita lebih baik. Karena itu, begitu ada wanita eks kawin
kontrak yang dibawa mucikari lainnya, hal tersebut menjadi bahan pergunjingan.
Akibatnya, umumnya mucikari enggan menjadi mucikari para wanita eks kawin
kontrak. Para pelaku kawin kontrak umumnya bukan penduduk asli Cisarua. Mereka
biasanya berasal dari daerah lain di sekitar Bogor. Umumnya berasal dari daerah
yang masih sejalur dengan kawasan Puncak. Di antaranya, Bandung dan
Cianjur.

Tapi, tidak semua wanita yang dikawin kontrak punya cerita
menyedihkan. Salah satunya dialami Dewi, sebut saja namanya demikian. Ibu dua
anak tersebut mengaku sudah dikontrak menjadi istri seorang pria asal Iran untuk
jangka empat tahun. Nilai kontraknya mencapai “Baru dua tahun ini berjalan,” ujar wanita 28 tahun yang tinggal di Gandamanah tersebut kepada Jawa Pos saat ditemui di sebuah vila di Kampung Tugu Selatan, Puncak, Cisarua, Bogor, Rabu pekan lalu (6/5).

Dia lantas menceritakan, perkenalannya dengan pria asal Iran tersebut terjadi pada 2007. Namanya Abdul, berumur sekitar 40 tahun. Keduanya kemudian menikah secara kawin kontrak di sebuah rumah kontrakan milik Dewi.
Setelah menikah, Dewi lantas dibawa ke vila yang sudah disewa Abdul di kawasan Tugu Selatan. Karena sudah diikat tali perkawinan kontrak, hubungan layaknya suami-istri pun mereka lakukan.

Dewi mengungkapkan, nafsu suami kontrakannya itu berbeda dari lelaki pada umumnya. Dalam sehari, lebih dari lima kali dirinya harus melayani. Itu pun tak boleh ditolak. “Ya bagaimana lagi. Saya juga sudah teken kontrak,” katanya.

Tapi, dia menampik anggapan bahwa hubungan tersebut dilakukan di tempat umum. “Ya enggak lah. Memang kadang-kadang rewel kayak anak kecil. Tapi, tidak pernah kalau sampai di tempat umum,” tegasnya.

Tahun pertama pernikahannya, kata Dewi, hubungan keduanya berjalan tiga bulan. Yakni, antara Mei hingga Juli. Setelah itu, Abdul kembali ke negaranya. Selama ditinggal pergi suaminya, Dewi tidak tinggal di vila. Dia kembali ke rumahnya. “Pokoknya kalau suami datang, saya menginap di vila. Kalau dia pergi ke negaranya, ya saya balik lagi ke rumah sendiri,” jelasnya.

Namun, musim Arab tahun ini, Abdul tak juga mengunjungi Dewi. Padahal, biasanya akhir April dia sudah datang. Namun, hingga memasuki Mei, dia tak juga datang. Kendati ditinggal, Dewi tak punya niat untuk kabur. Dia juga berharap suaminya itu datang. Bukan karena cinta. “Dia kan baru bayar separo dari nilai kontrak. Jadi, ya saya tunggu dulu. Janjinya sih sisanya mau dibayar musim Arab tahun ini,” ungkapnya. (bersambung)

1 Komentar

Filed under ragam

One response to “Pergi kePuncak Ketika Musim Turis Timur Tengah Tiba (2)

  1. Gemerlap dan kemilau harta trkadang bisa membutakan mata hati, tdk tahu halal atau haram yg penting kesenangan duniawi didapatkan, tak sadarkah kita kalau semua itu bakal dipertanggungjawabkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s