Argentina Dikalahkan Ketinggian

Argentina dibantai Bolivia 6 -1 di La paz, skor yang sangat mengejutkan mengingat saya menyaksikan tayangan langsung pertandingan Argentina sebelumnya ketika melawan Venezuela ,permainan tim asuhan Diego Maradona ini  cantik sekali dengan  permainan sangat kolektif sekelas Ajax di Piala Champion  1995.

Alasan mengapa Bolivia tidak pernah kalah main di La Paz melawan tim sekelas Brasil atau Argentina sekalipun adalah mereka bermain di ketinggian 3400 m di atas permukaan laut , lho bukannya Bolivia pun main di lapangan yang sama ??  betul tapi mereka sudah melakukan aklimatisasi (penyesuaian). Team yang berasal dari dataran rendah akan berkurang penampilan fisiknya di dataran tinggi . Dibutuhkan aklimatisasi (penyesuaian) dengan atmospher setempat sebanyak 15 – 20 hari agar tubuh menyesuaikan diri dengan kurangnya oksigen .

Apa yang terjadi bila kita berasa di permukaan yang tinggi ? kita akan mengalami kekurangan oksigen, kedinginan dan dehidrasi, mengakibatkan kesulitan bernafas, sakit kepala yang hebat, gemetar dan sakit ketinggian  ditambah dengan dengan aktivitas berat seperti sepakbola akan memperparah gejala-gejala ini.

Pada bulan Mei 2007 FIFA sudah melarang pertandingan internasional dimainkan di lapangan dengan ketinggian di atas 2500 m, tapi entah kenapa larangan itu dicabut lagi. Seorang peneliti dari universitas Oxford, mencari pengaruh ketinggian dengan hasil pertandingan dan penampilan fisik dari berbagai team di sepuluh negara di Amerika Selatan dalam rentang waktu 100 tahun.  Empat variable dipakai unutk menghitung pengaruh ketinggian dan mengendalikan kemampuan tim ( kemungkinan unutk menang, mencetak gol, kemasukan gol dan perbedaan ketinggian antara pertandingan home dan away )

Hasilnya menunjukkan perbedaan ketinggian mempunyai pengaruh negatif dalam dalam penampilan sebuah tim, Tim yang berasal dari daerah ketinggian seperti Bolivia dan mexico mencetak lebih banyak gol dan sedikit kemasukan di saat perbedaan ketinggian bertambah, setip pertambahan 1000 meter ketinggian ,menaikkan kemampuan mencetak gol setengah gol.

Sebagai contoh , jika team berasal dari dataran yang sama kemungkinan menang team tuan rumah adalah 53,7%  kemungkinan ini naik ke 82.5% persen ketika bolivia (tim dataran tinggi) menjadi tuan rumah dan jatuh ke angka 21,3% jika brasil menjadi tuan rumah (di dataran rendah tentunya) dengan perbedaan ketinggian -3.695. Hasil mengejutkan yang lain adalah team yang biasa bermain di dataran tinggi  juga bisa  bermaiin lebih baik jika dia juga bila bermain di dataran rendah. (Dalam kasus Bolivia kita yakin bahwa keterampilan tekniknya tidak setinggi Brasil maka jika hambatan fisik tidak ada skill sepakbola yang benar yang berbicara).

Maksudnya orang yang biasa bermain di dataran tinggi terbiasa dengan sedikit oksigen tubuhnya akan menyerap banyak oksigen jika dia berada di dataran rendah , hasil latihan di dataran tinggi akan berbekas sampai 3 bulan jika di bermain di dataran rendah.

Apakah ini berpengaruh di olahraga lain? hasil yang aneh ditunjukkan di olahraga lain seperti atletik.Di olympiade mexico city (2300 m) tahun 1968 seorang pelompat jauh mencetak record 9,3 meter- lebih jauh 60 centi dari pencapaian rata-rata waktu itu (60 centi di lompat jauh banyak lho), di lomba lari jarak pendek 100-1500 meter  berbagai record baru diciptakan, tapi di lari jauh 5000 ke atas record malah memburuk.

Penelitian dari hasil itu menunjukkan di dataran tinggi , tahanan angin sangat kecil sehingga atlet bisa bergerak lebih cepat, melompat lebih jauh, bahkan cakram yang dilempar  pun akan melayang lebih jauh, bola yang ditendang pun akan bergerak lebih cepat  dibanding di dataran rendah. Tapi itu hanya berlaku untuk sport yang tidak memerlukan endurance (ketahanan tubuh) yang lama seperti marathon atau sepakbola , bermain di dataran tinggi untuk olahraga aktif berdurasi lama akan menyiksa si atlet, seperti yang sudah kita baca di atas.

Jadi apa strategi terbaik untuk bermain di dataran  tinggi ? pertama aklimatisasi sampai 20 hari (ini yang tidak mungkin karena padatnya jadwal pertandingan) atau memilih atlet dengan daya tubuh terbaik untuk bertahan di dataran tinggi dengan bantuan teknologi.

Indonesia bisa memanfaatkan hal ini bila serius bermaksud menjadi tuan rumah piala dunia yaitu membangun stadion di Timika (Papua) dekat pertambangan Freeport (2900 – 5000 m ) sana  uangnya kan tinggal minta Freeport,  hehe.

Sumber http://www.medicalnews.com

Tinggalkan komentar

Filed under sport

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s