Bertanya ?

Pernahkah anda mengikuti pengajian dan pertanyaan yang sama ditanyakan  oleh audience kepada ustadnya, lagi,lagi, lagi, lagi berkali-kali seperti energizer bunny, saya sudah merasakan fenomena ini sejak mengikuti pengajian setiap hari Kamis yang ada di perumahan kami.

Setelah beberapa lama mengikuti pengajian (dan dengan jemaah yang relatif tetap ) saya menyimpulkan bahwa ada beberapa jenis penanya ;

1. Orang yang memang tidak tahu, (ini OK lah biasanya orang yang tidak secara rutin datang jadi tidak tahu pertanyaan yang sama pernah ditanyakan di forum)
2. Orang yang bertanya untuk mendapatkan pembenaran  tentang apa yang selama ini dia jalankan dengan begitu di forum diskusi lain tanpa  kehadiran seorang Ustad dia merasa benar. Pertanyaan model ini juga yang membuat pengajian berjalan di tempat. Sebenarnya jika jawaban ustad berbeda dengan jawaban yang dia harapkan saya jamin 100% dia tidak akan melaksanakan berbeda dengan rutinitas dia selama ini.
3. Orang yang sudah tahu tapi tetap bertanya sebagai jalan agar orang lain mengetahui juga subjek yang dia sudah ketahui itu, ini bagus tapi menghabiskan waktu juga , kalau dia tahu kenapa tidak memberi  tahu rekan-rekan secara langsung.
4. Orang yang bertanya untuk mendebat pernyataan ustadnya, ini yang bikin pengajian seru dengan diskusi tapi di ujungnya seperti biasa perdebatan tidak menghasilkan apa-apa kecuali orang yang sakit hati, karena orang yang kalah berdebat pun tidak akan serta merta mengikuti petunjuk orang yang “menang”  debat.
5. Orang yang bertanya untuk  mengadu atas pernyataan ustad minggu sebelumya , haa? Ceritanya begini di tempat kami untuk merangkul semua golongan, ustad yang mengisi kajian bergantian dari berbagai latar belakang  yang ada. Nah jika ada pernyataan yang tidak cocok bagi audien dari satu ustad di minggu satu , maka akan  ada jawaban yang lebih mengena di minggu lain, tapi hal ini biasanya tidak berlangsung lama karena segment pasar sudah terbentuk, misalnya seorang yang cocok dengan ustad dari organisasi taua aliran  A tidak akan hadir jika ustadnya dari Organisasi atau aliran B begitu juga sebaliknya.

Sebenarnya hal ini sudah diminimize dengan menggunakan buku sebagai acuan sehingga pengajian kita berubah bahasannya setiap minggu , sebagai contoh untuk fiqh kita memakai Bulughul Ma’rom untuk dibedah halaman per halaman tapi begitu di akhir pembahasan pada saat  forum tanya jawab, pertanyaan berulang muncul lagi, hhh cape deh..

Kadang hal yang ditanyakan itu sangat remeh temeh seolah-olah manusia itu tidak dikaruniai kemampuan unutk menganalisis atau  tidak punya kemampuan untuk memutuskan sama sekali, misalnya bagaimana cara membersihkan najis kencing anak di rumah

Dari mana kebiasaan bertanya tentang segala sesuatu ini berasal ? memang ada perintah dari Quran untuk bertanya jika tidak tahu, tapi apakah sampai se-ekstrim itu, saya tidak tahu maka saya menulis artikel ini , barangkali ada yang tahu mengapa kita sebegitu parahnya  tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisa atau untuk memutuskan suatu masalah sendiri.

Tinggalkan komentar

Filed under Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s