Tips Membeli Hewan Qurban

Oleh :Rochadi Tawaf

Menjelang   “iedul qurban”  tampak di pinggir-pinggir jalan di setiap kota orang mulai menjajakan ternak domba, kambing dan sapi sebagai hewan Qurban. Beberapa Tips dibawah ini dapat digunakan, agar hewan yang kita beli sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW   yaitu antara lain harus memenuhi  beberapa kriteria pokok kesempurnaan; ternak dalam keadaan cukup umur, sehat (tidak cacat) dan jantan. Selain itu, daging yang dihasilkan pun, jumlahnya sesuai harapan kita untuk dibagikan kepada para mustahik yang berhak.

Pertama, memilih ternak yang cukup umur, sehat (tidak cacat) dan. jantan kriteria cukup umur  untuk kambing dan domba rata-rata umur dewasa tubuhnya
sekitar 12 – 18 bulan , sedangkan untuk sapi dan kerbau sekitar 22 bulan.
Beberapa metoda yang dapat digunakan untuk mengetahui umur ternak adalah sebagai berikut : Melihat catatan kelahiran ternak tersebut, pada pemiliknya atau dari giginya. Jika gigi susunya telah tanggal/diganti (dua/sepasang gigi susu yang didepan) menandakan ternak tersebut telah berumur sekitar 12 – 18 bulan (Kambing dan domba), sedangkan Sapi dan kerbau sekitar 22 bulan.
Sehatnya seekor ternak,   dapat dicirikan dari bulunya yang tampak mengkilat
dan bersih. Bulu tersebut tidak berdiri dan kusam. Matanya bersinar (jernih).  Ternak yang sehat sangat mudah dilihat dari cara makan dan minumnya, bila konsumsi makan dan minumnya baik (lahap), merupakan ciri hewan tersebut sehat. Bentuk tubuhnya harus standar. Pengertian standar untuk sapi dan kerbau, tulang punggungnya relatif rata, tanduknya seimbang dan keempat kakinya simetris serta postur tubuhnya ideal. Postur tubuh ideal yang dimaksud, misalnya kombinasi perut, kaki depan, belakang, kepala dan lehernya seimbang. Selain itu, dapat pula dilihat pada bagian mulut. Apabila mulutnya basah sekali, sehingga air liurnya banyak keluar, atau nampak bahwa mulutnya terdapat bintil-bintil berwarna merah tentu hewan tersebut harus diwaspadai, mungkin mengidap penyakit. sedangkan ternak yang cacat, adalah karena salah satu bagian dari tubuhnya hilang atau rusak. Seperti misalnya tanduknya patah sebelah, tulang kakinya patah dsb.

Kedua, menghitung berapa daging yang akan dihasilkan oleh seekor ternak.
Sebab, sasaran kita kepada berapa orang daging ini akan dibagikan. Caranya adalah sebagai berikut : Seekor sapi akan mampu menghasilkan karkas (tulang daging, tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan) sekitar (49 – 57) % dari berat hidup. Jika kita membeli seekor sapi dengan berat badan 400 kg, maka akan memperoleh karkas sekitar (196 -228) kg. Dari sejumlah ini, akan mampu dihasilkan daging tanpa tulang (boneless) sekitar  75 % dari berat karkas atau sekitar (147 – 170) kg. Belum termasuk jeroan, kaki dan kepala. Berat daging yang diperoleh sangat tergantung pula kepada perlakuan yang diberikan oleh kita selama sapi tersebut belum dipotong. Akibat jeleknya perlakuan sebelum dipotong, biasanya dapat menurunkan (susut berat badan) sampai dengan 5% dari berat badannya, bahkan bisa lebih tinggi lagi. Bila kita konversikan penyusutan 5 % dari berat sapi 400 kg, sekitar 20 kg berat hidup dengan nilai uang sebesar  20 Kg x Rp. 22.000,00 = Rp 440.000,00 per ekor (asumsi harga sapi saat Iedul Adha Rp. 22.000,00/kg berat hidup).  Nilai yang cukup besar dari penyusutan ini hilang begitu saja. Jika ternak diperlakukan dengan baik, manfaat yang sebesar itu akan dapat dinikmati oleh banyak orang. Seandainya, kita akan membagikan kepada yang berhak menerima daging qurban per bungkus per orang seberat 1 kg daging ditambah jeroannya, maka dari seekor sapi dengan berat badan 400 kg akan diperoleh sekitar (147 ) 170) bungkus.

Dengan cara perhitungan yang sama, tetapi koefesien teknis yang berbeda, seekor domba/kambing dengan berat hidup sekitar 40 kg (termasuk kelas A, pada Iedul Adha), akan menghasilkan karkas sekitar (41-49) % dari berat hidupnya atau sekitar (16,4 -19,6) Kg. Dari sejumlah tersebut diperoleh daging
(boneless) sekitar 75 % dari berat karkas atau menghasilkan daging tanpa tulang sekitar (12,3 – 14,7) kg.  Seandainya, patokan pembagian daging qurban yang digunakan daging per bungkus seberat satu kg, maka untuk seekor domba/kambing, dengan berat hidup sekitar 40 kg akan diperoleh sekitar (12 –
15) bungkus daging.

Ketiga, Cara penjualan ternak qurban umumnya dilakukan secara berat taksir kadangkala ada pula yang memberikan dengan harga timbang hidup. Untuk ini, harus dipertanyakan kapan dan dimana ditimbangnya. Sebab, selama proses penjualan ternak tersebut akan terjadi penyusutan, yang dapat mencapai lebih dari 10 %. Bagi orang awam sangat sulit menentukan tepatnya berat hidup berdasarkan nilai taksir penjualan. Untuk mengetahui berapa berat sebenarnya ternak yang kita beli, tidak ada jalan lain kecuali harus ditimbang. Kita dapat memperolehnya pada perusahaan peternakan atau pedagang yang menjual ternak qurban dengan timbangan hidup. Cara ini lebih menjamin konsumen, sehingga kita dapat memperkirakan berapa daging yang akan dihasilkan dari ternak yang dipotong.

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s