Cerita Sudin :Potret kemiskinan yang tak usang-usang

Dari Galamedia

Sebuah potret kenyataan di republik tercinta ini, sekian tahun merdeka belum juga bisa membagi rata kue kesejahteraan. Seorang anak yang seharusnya mendapat pendidikan untuk memutus linkarana setan  kemiskinan dan kebodohan malah bekerja keras menjual barang yang beratnya hampir seberat tubuhnya , emhh. Sedih euy, buat sudin see you another day in paradise..

MEMIKUL beban berat berupa barang rumah tangga yang terbuat dari batu seperti cobek dan muntu sudah menjadi rutinitas sehari-hari Sudin (13). Beban sekitar 35 kg untuk bocah seusianya, tentunya tergolong berat. Apalagi ia harus membawanya berkeliling dari satu kampung ke kampung lain sejak pagi hingga sore.

Orang bilang, hidup adalah perjuangan. Itu pulalah yang dilakukan Sudin. Bocah yang seharusnya berada di bangku sekolah dan bermain dengan teman sebayanya itu, terpaksa harus membanting tulang demi memenuhi tuntutan ekonomi keluarga. “Berat sih berat, tapi kalau tidak begini, enggak dapat uang untuk makan,” ungkap Sudin polos saat ditemui “GM” ketika sedang berkeliling menjajakan dagangannya di kawasan permukiman di Bandung.

Sudin yang mengaku berasal dari Padalarang itu merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Kedua orangtuanya adalah buruh tani dan terkadang menjadi buruh bongkar muat truk pengangkut batu-batuan di wilayah Cipatat, Padalarang. Pendapatan mereka menurut Sudin jauh dari cukup. Sebagai buktinya, ia putus sekolah karena terbentur masalah biaya.

Menurut Sudin, ia berusaha membantu meringankan beban orangtuanya yang harus memberi makan dan memenuhi keperluan sehari-hari, ditambah biaya untuk sekolah adiknya yang masih di SD. Memang diakuinya, penghasilannya setiap hari tidak besar, bahkan bisa dibilang tidak menentu. Terkadang yang laku hanya satu atau dua buah cobek plus muntu yang harganya berkisar antara Rp 5.000- Rp 9.000. Itu belum termasuk untuk ongkos naik KRD dari Padalarang ke Bandung dan uang jajan.

Namun, tekad keras Sudin mungkin patut dicontoh. Meskipun penghasilannya tidak seberapa, tapi ia tetap menjalankan usaha tersebut sejak dua tahun lalu.

Sudin mengaku apa yang dilakukannya memang tak lebih sebagai pengabdian kepada kedua orangtuanya. Di samping itu, ia juga punya tekad mulia, ingin melihat adik-adiknya bisa sekolah hingga tingkat yang lebih tinggi. (rosyad abdullah m./”GM”)**”

melihat Kisah Sudin tadi ayo jangan lah kita  mengeluh, bersyukurlah atas keadaan anda sekarang ini .

Sebelum Anda Mengeluh
Hari ini sebelum anda berniat untuk mengucapkan perkataan yang buruk
Pikirkanlah seseorang yang ditakdirkan tidak bisa berbicara
Sebelum anda mengeluhkan rasa makanan
Pikirkanlah seseorang yang tidak punya makanan sama sekali
Sebelum anda mengeluh tidak cukup akan sesuatu
Pikirkanlah seseorang yang harus mengemis di jalan
Sebelum anda mengeluh tentang perkara yang buruk
Pikirkanlah seseorang yang berada dalam keadaan terburuk dalam hidupnya
Sebelum anda mengeluh tentang suami/istri anda
Pikirkanlah tentang sesorang yang menangis sedih memohon diberi pasangan Kepada Allah
Hari ini sebelem anda mengeluh tentang kehidupan
Pikirkanlah sesorang yang telah meninggal dunia
Sebelum anda mengeluh tentang putra-putri anda
Pikirkanlah tentang seseorang yang ditakdirkan tidak dikaruniai momongan
Sebelum anda mengeluh tentang jarak yang harus ditempuh ketika mengemudi
Pikirkanlah tentang seseorang yang harus berjalan menempuh jarak sejauh itu
Sebelum anda berkeluh kesah tentang pekerjaan anda
Pikirkanlah tentang seorang yang sulit mencari pekerjaan dan seseorang yang menginginkan pekerjaan anda sekarang
sebelum anda menuduh seseorang atau tidak setuju terhadap pendapatnya
Ingatlah bahwa tiada seorang pun hidup tanpa dosa dan cela
Dan kita akan menghadapi Tuhan dan pertanyaan yang sama

1 Komentar

Filed under Tak Berkategori

One response to “Cerita Sudin :Potret kemiskinan yang tak usang-usang

  1. contenya berat atuh akang, lier pisan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s